Berawal dari sebuah brosur yang kutemukan di salah satu rak kitab di sebuah mesjid di kota Bogor. Brosur tersebut seolah menjadi pengantar jalan keluar dari kebingunanku kala lepas dari sekolah menengah umum.
Saat itu saat dimana semua teman-teman SMA sedang sibuk-sibuknya memikirkan harus dan akan kemana mereka pergi dan apa yang akan mereka lakukan seterusnya begitu jenjang SMA mereka telah usai. Sebagian dari mereka ada yang melanjutkan kejenjang perguruan tinggi, ada pula di antara mereka yang sibuk menyebarkan lamaran kerja mencari pekerjaan sampai keluar kota. Dan tidak jauh dari mereka, akupun saat itu cukup disibukkan dengan mencari dan mencari pekerjaan. Namun sampai dua bulan lebih aku sibuk mencari dan menyebarkan banyak lamaran, belum ada satu panggilanpun aku terima. Sebenarnya pada saat itu ada satu keinginan yang besar dan jauh lebih besar dari pada hanya sekedar keinginan mendapatkan sebuah pekerjaan, yakni aku ingin sekali untuk langsung melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Namun apa daya, jangankan untuk kuliah, untuk melunasi sisa tunggakan pembayaran SPP SMA saja keluargaku masih kesulitan. Dan kebingunganku pun rasanya saat itu tak kunjung mereda.
Disaat kebingungan itu terasa semakin menekanku hingga sempat membuat semangatku memudar dan lemah, datang seorang teman memanggil dan mengajakku pergi untuk menemaninya mendaftar kuliah ke IPB. Disini aku hanya sekedar mengantarnya saja dan tidak lebih dari itu. Tapi siapa sangka dibalik keikhlasan menemani dan mengantarkan teman yang nantinya akan menuntut ilmu di IPB itu, ada satu balasan nyata yang merupakan rahasia Allah.
Saat itu, dikampus lama IPB kami habiskan cukup banyak waktu perihal pendaftaran, mulai dari mengisi form calon mahasiswa, mempelajari profile kampus dan sebagainya. Sedih memang, saat form-form itu aku isi, nama yang ku tulis itu bukanlah nama yang ku punya melainkan nama dari temanku tadi, karena sekali lagi, aku ke IPB itu hanya sekedar mengantar saja. Tidak terasa, begitu kami selesai, ternyata sudah hampir 4 jam kami disana. Hingga suara adzan Dzhuhurpun mulai terdengar. Dari IPB kampus lama, kami langsung hijrah ke sebuah mesjid disekitar Jalan Siliwangi. Empat rakaat pun kami kerjakan disana. Tidak lama setelah aku berdoa kepada Allah untuk diberikan jalan terbaik, aku memalingkan tubuhku kearah pintu keluar mesjid dan saat itu pula aku melihat selembar brosur hijau yang tergelatak di rak kitab mesjid tersebut. Brosur tersebut bertuliskan “BEC”. Aku pun penasaran ingin mengetahui lebih jauh hingga membaca isi keseluruhan brosur tersebut.
Sungguh hari yang begitu cerah saat ku tahu bahwa brosur tersebut ternyata adalah brosur BEC atau Bogor EduCARE, sebuah instansi pendidikan di Bogor Jurusan Administrasi Bisnis dengan biaya kuliah gratis hingga 100 %. Saking kegirangannya, mengetahui ada program kuliah gratis, air mata gembira seolah mengalir tak tertahan menahan rasa bahagia. Detik itu pula, kami langsung mencari lokasi kampus yang memberi kabar gembira tersebut.
Akhirnya, di sebuah pertigaan Cimahpar dekat tol Jagorawi, sepeda motor kami berhenti kala melihat kampus hijau di sebelah kanan kami. Memang kala itu kampus BEC masih dalam pembangunan, namun keindahan BEC tidaklah kurang walau saat itu hanya baru lantai dasar saja yang telah selesai dibangun. Usai kami mamakirkan motor, kami langsung menuju tempat pendaftaran mahasiswa dan aku pun langsung memastikan diri untuk menjadi bagian dari Bogor EduCARE angkatan ke-12. Sungguh satu hari yang bersejarah, karena di hari itu tidak hanya temanku saja yang resmi melanjutkan pendidikan ke IPB, namun aku sendiri pun berhasil menemukan jalan pintu masa depan yang cerah dengan mendaftar menjadi mahasiswa BEC.



Caupilluple
January 29, 2011 at 9:44 pm
Przeczytaj caly blog jest bardzo dobry